Motor adalah kendaraan yang paling praktis dan fleksibel, karena dengan mengendarai motor kita dapat menghindari kemacetan saat berkendara, bahkan motor bukan hanya sebagai kendaraan namun bagi saya motor adalah teman.
Saat saya pertama kali
mengendarai motor, itu bukan karena niat tapi paksaan dari teman, ketika itu
saya belum berani untuk mengendarai motor, karena melihat kasus kecelakaan
terhadap motor itu begitu tinggi dan jika melihat korban kecelakaan motor itu ngeri sekali, makanya ketika diminta
untuk mengendarai motor oleh teman ataupun saudara, saya selalu menolaknya, karena
rasa takut itu begitu menghantui saya.
Kata orang, belajar
mengendarai motor itu hampir sama seperti belajar sepeda karena sama-sama berkaitan
dengan keseimbangan, bedanya sepeda di kayuh dan motor di gas, dan akhirnya
pertama kali mengendarai motor, dengan paksaan dari teman saya.
Ketika itu saat saya
kelas 3 SMP, saya belum berani menendarai motor, lalu saya ada janji malam itu
sekitar pukul 19.00 dengan teman saya, untuk berkunjung kerumah teman saya yang
lain, kita samarkan nama teman saya si Bocrot (nama disamarkan) dan si Cobek
(nama disamarkan), kami bertiga memang berteman baik di sekolah, si Bocrot yang
akan berkunjung kerumah saya dan akan mengunjungi rumah Cobek bersama saya,
alasan Bocrot ingin berkunjung kerumah teman-temannya adalah “gua pengen tau
aja rumah lu berdua, yaa itung-itung silaturrahmi”, itulah alasan kuat Bocrot,
dan memang rumah Bocrot paling jauh dari kami bertiga.
Ketika itu Bocrot
membawa sepeda motor kerumah saya, yaa memang rumah saya dengan rumah Bocrot
jauh, sedangkan rumah saya dengan Cobek itu lumayan dekat, setelah Bocrot
sampai kerumah saya, kami pun langsung berangkat kerumah Cobek menggunakan motor
Bocrot dan tentu saja Bocrot yang mengendarai motornya.
Sampailah kami dirumah Cobek
“Assalamu’alaikum, Cobek, Cobek” teriak kami memanggil dari luar rumahnya,
sesaat kemudian keluarlah orang rumahnya dan mengatakan bahwa Cobek tidak ada
dirumah dan sedang pergi ke Warnet dari selepas maghrib, kata orang rumahnya,
tanpa lama-lama kami langsung pamit dan pergi ke Warnet tersebut, sesampainya
di Warnet, dan masuk ke Warnetnya kami tidak melihat batang hidung Cobek,
akhirnya kami menunggu dulu dan berasumsi mungkin Cobek lagi keluar sebentar,
hampir setengah jam kami di Warnet, rasa sabar kami terhadap Cobek pun habis,
apalgi si Bocrot yang sudah putus asa dan mengatakan “Udah lah pulang aja, Cobek
tenggelem kali di comberan” candanya, saya pun jadi tidak enak kepada Bocrot
yang sudah jauh-jauh datang namun tidak dapat menemui temannya, akhirnya kami
memutuskan untuk bermain playstation
dirumah saya.
Disnilah paksaan itu
terjadi, ketika keluar Warnet entah kenapa Bocrot menyuruh saya untuk
mengendarai motornya, padahal dia tau saya belum bisa mengendarai motor.
Bocrot : “eh elu aja nih yang bawa, gua
ngga enak nih lewat tongkrongan yang keluar gang, elu kan orang sini
seenggaknya kenal lah.”
Perlu diketahui, Bocrot
ini adalah player Tawuran yang cukup
handal di sekolah kami, dan namanya pun di sekolah sudah tidak asing lagi,
Bocrot memang tenar disekolah, dan
beliau cukup aktif di tongkrongan rumahnya, Jadi mungkin menurut Bocrot tidak
enak lewat tongkrongan orang, karena bukan orang sini.
Saya : “eh lu aja, lu kan tau gua kaga
bisa naik motor”
Bocrot : “yaelah gapapa, tinggal gas
doang, ini motor gua juga pakeannya enak ko’, giginya baru gua bersihin jadi
entengan”.
Sebenarnya saya tidak
peduli dengan alasan Bocrot yang mengatakan bahwa motornya dikendarai dengan
nyaman, saya takut untuk mengendarai motornya, namun hati kecil saya berbisik
pelan “udah gapapa, kasian dia udah jauh-jauh kerumah lu, terus bagus juga buat
lu, sekalian belajar motor”.
Akhirnya setelah perang
batin di dalam diri saya. Saya pun memberanikan diri untuk mengendarai
motornya, saya pun mulai memutar kunci dan menyalakan mesinnya, suara motornya
membuat jantung saya berdegup kencang setiap saat, dengan arahan Bocrot yang
sangat detil dari belakang, bak sebuah
aplikasi indikator penggunaan motor, saya pun mulai menaikkan perseneling dan
mulai menarik gas motor itu perlahan, motor pun mulai berjalan dan kaki saya
mulai meninggalkan aspal, sedikit demi sedikit motor mulai menunjukkan
kecepatannya, 5 menit saya mengendarai, kami sampai dipersimpangan dan ada
pangkalan ojek diujung persimpangan, saya mulai panik ketika harus mengerem dan
mengendurkan gas agar mengurangi laju motor, namun yang terjadi sebaliknya,
saya lupa mengerem dan malah menarik gas, motor terus berjalan luruss dan
Gubrakkk!!!.
Hampir saja kami
menabrak pangkalan ojek tersebut, saya berhasil membelokannya ke tengah jalan
dan terjatuh bersama Bocrot, tubuh kami baik-baik saja dan tidak ada yang
terluka, saya panik luar biasa dan Bocrot malah menertawai saya padahal kami
jatuhnya bersama-sama, tukang ojek disana bukan membantu kami bangun namun
mereka malah meneriaki dan berkata:
Tukang Ojek : “wahhh kalian mabok yaa?, coba tes urine!, tes
urine!, ko’ ngga ada apa-apa jatoh?”
Saya : “ngga pak, saya baru belajar
motor”
Tukang Ojek : “kalo belajar motor jangan
malem-malem dek.”
Saya : “iyaa pak, maaf ya pak”
Setelah dimarahi oleh tukang ojek, saya
meminta maaf kepada tukang ojek tersebut, kemudian kami langsung melanjutkan
perjalanan menuju rumah saya dan mengganti joki
tentu saja. Di perjalanan pulang kami berbincang.
Bocrot : “lu kalo belom bisa naek motor,
bilang dari tadi aturan” (sambil sedikit tertawa)
Saya : “lah daritadi gua udah bilang kan
crott” (dengan rasa panik yang masih ada)
Bocrot : “yaudah iyee, gua yang bawa ini
motor”
Setelah kejadian itu
kami kembali kerumah saya dan kami langsung melakukan keputusan kita diawal
jika tidak bertemu Cobek, yaitu bermain playstation,
ketika bermain playtation rasa panik
saya mulai menghilang dan Bocrot masih geli
mengingat kejadian tadi.
Beberapa tahun kemudian,
saya sudah mahir mengendarai motor, lalu saya mengingat lagi kejadian itu, bagi
saya, motor bukan hanya kendaraan, tetapi sekaligus menjadi teman, bahkan
sekarang motor saya, saya berikan nama “Mpis”, sekarang kemana-mana saya mengendarainya, kemana-mana
saya bersamanya, jika dihitnung-hitung dalam sehari saya 2 jam bersama motor,
itupun untuk pulang pergi dari kampus saja, belum terhitung yang lainnya,
Menurut saya belajar mengendarai motor itu bukan hanya soal keseimbangan,
memainkan gas, dan menggunakan perseneling dengan baik, tetapi bagaimana
menaruh hati pada motor, jangan ada paksaan dalam belajar, dan adanya dorongan
dari hati kita sendiri untuk mencintai motor itu.
Komentar
Posting Komentar